Jumat, 08 Februari 2013

Laporan Praktikum Ekologi Hutan di Cagar Alam Raya Passi



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ekologi Hutan adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungan. Hubungan ini sangat erat dan komplek sehingga menyatakan bahwa ekologi adalah biologi lingkungan (Eviromental biology).
      Tujuan ekologi adalah untuk memahami mekanisme yang mengatur struktur dan fungsi suatu ekosistem. Untuk mengetahui sistem ekologi pada suatu waktu tertentu, perlu diketahui organisme apa saja yang hidup ditempat  tertentu , bagaimana kepadatannya,dan bagaimana hubungannya dengan banyak faktor fisik dan kimia di lingkungan abiotik di sekelilingnya. Oleh karena itu dalam mata kuliah ekologi hutan, vegetasi hutan dapat diketahui dengan cara analisis vegetasi.
Pada praktikum ini , kami melakukan analisis vegetasi dengan menggunakan metode kuadran.

1.2  Tujuan praktek
Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain:
a.       Mengenal secara langsung ekosistem hutan dan komponen – komponen yang ada dalam suat ekosistem hutan
b.      Mengetahui komposisi jenis suatu ekosistem hutan
c.       Mengetahui dominasi suatu jenis pohon hutan berdasarkan INP







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Keadaan Lapangan
Cagar Alam Raya Pasi/Obyek Wisata Alam Gunung Poteng ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 326/Kpts-Um/5/1978 tanggal 20 Mei 1978 dengan luas 3.742 Ha.Cagar Alam Raya Pasi/OWA Gn Poteng secara geografis terletak di antara 049’-051’ Lintang Utara dan 10859’-10991’ Bujur Timur. Secara administratif termasuk Kecamatan Tujuh Belas dan sebagian kecil dalam wilayah Kecamatan Samalantan, Kabupaten Dati II Sambas, Propinsi Kalimantan Barat.
Keadaan topografi kawasan CA Raya Pasi/OWA Gunung Poteng pada umumnya bergelombang, sedang sampai berat dan bergunung dengan kemiringan 15-65. Ketinggiannya berkisar antara 150-920 m dpl. Puncak tertinggi adalah Gunung Raya (920 m dpl).
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson CA Raya Pasi/OWA Gn. Poteng termasuk ke dalam klasifikasi type A dengan curah hujan rata-rata pertahun 263 mm dengan kelembaban 55%.
Potensi flora di dalam kawasan adalah famili Dipterocarpaceae, Ebenaceae, Lauramceae dengan jenis-jenis Empaning (Qurros bennetti), Meranti, Babab, Marabatu dan Mertana, Kayu alam (Eugenia sp.), Aren (Arenga pinnata). Di dalam kawasan CA terdapat beberapa jenis anggrek alam dan bunga raflesia tuan madae dan raflesia padma yang dilindungi.
Selan flora , pada cagar alam raya pasi juga terdapat beberapa fauna. Jenis-jenis fauna yang hidup di dalam kawasan tersebut adalah jenis-jenis yang dilindungi di antaranya adalah Ayam hutan, Burung madu, Burung ancuit, Rangkong, Tangkaraba, Tiung, Babi hutan, Bajing merah, Bajing terbang, Binturong, Kera ekor panjang, Kukang, Landak, Pelanduk, Trenggiling, Ular hijau, Ikan gonggong, Biawak, Lutung, Macan dahan dan Rusa.

2.2  Klasifikasi Jenis Pohon
Dalam praktikum kali ini , kami menemukan beberapa jenis pohon . Adapun klasifikasi dari pohon-pohon tersebut antara lain :

a.          Pohon karet
Klasifikasi
Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                 : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Rosidae
Ordo                            : Euphorbiales
Famili                          : Euphorbiaceae
Genus                          : Hevea

Habitus
       Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15 - 20 meter.
    Tanaman karet juga memiliki sistem perakaran yang ekstensif/menyebar cukup luas sehingga tanaman karet dapat tumbuh pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan.Akar ini juga digunakan untuk menyeleksi klon-klon yang dapat digunakan sebagai batang bawah pada perbanyakan tanaman karet.
            Tanaman karet memiliki masa belum menghasilkan selama lima tahun (masa TBM 5tahun) dan sudah mulai dapat disadap pada awal tahun ke enam. Secara ekonomistanaman karet dapat disadap selama 15 sampai 20 tahun.  
       


b.         Pohon Durian
Klasifikasi
Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                 : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Dilleniidae
Ordo                            : Malvales
Famili                          : Bombacaceae
Genus                          : Durio

Habitus
Tinggi tempat dari muka laut 150 - 500 m. Curah Hujan 1.500 - 2.000 mm/thn dengan bulan kering 2 - 3 bulan dan bulan basah 9 - 10 bulan. Berada pada iklim basah suhu udara 27°C - 30°C dengan Kelembaban 70 % - 80%.
Keadaan tanahnya antara lain tidak terlalu memilih tempat dan jenis tanah tetapi yang paling ideal ialah lempung pasir, subur, gembur banyak mengandung bahan organik , lapisan dalam lebih dari 150 cm serta airasi dan drainasenya baik dengan pH 5,5 – 7.

Selain pohon karet dan durian , ada beberapa jenis lagi yang kami temukan pada petak pengamatan kami. Pohon itu adalah pohon bautiong , pohon belihing , pohon garong, dan pohon umam. Namun kami belum menemukan nama ilmiah dari pohon lokal  tersebut dikarenakan terbatasnya referensi yang kami miliki . Oleh karena itu, sulit untuk kami mengetahui klasifikasi dari pohon tersebut.



2.3  Analisis vegetasi
Frekuensi adalah nilai besaran yang menyatakan derajat penyebaran jenis didalam komunitasnya. Angka ini diperoleh dengan melihat perbandingan jumlah dari petak-petak yang diduduki suatu jenis terhadap keseluruhan petak yang diambil sebagai petak contoh di dalam melakukan analisis vegetasi. Frekuensi dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti luas petak contoh, penyebaran tumbuhan dan ukuran jenis tumbuhan.
Dominansi adalah besaran yang digunakan untuk menyatakan derajat penguasaan ruang atau tempat tumbuh , berapa luas areal yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan atau kemampuan suatu jenis tumbuhan untuk bersaing tehadap jenis lainnya. Dalam pengukuran dominansi dapat digunakan proses kelindungan ( penutup tajuk ), luas basah area , biomassa, atau volume. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan  vegetasi, iklim dan tanah berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Anonim. 2009).
            Dalam penghitungan penutupan tajuk ini, barisannya dilakukan dengan cara mengukur luasan tajuk untuk tiap jenis yang terdapat dalam petak contoh, kemudian dicari domonansi relatifnya. Selanjutnya proses penutupan tajuk dapat diukur proyeksi tajuk tanah. biomassa adalah ukuran untuk menyatakan berat suatu tumbuhan. Sedangkan volume dapat dihitung dari rata-rata luas basal area x tinggi tumbuhan bebas cabang x factor koeksi pohon.
            Metode kuadran adalah salah satu metode yang tidak menggunakan petak contoh  (plotless) metode ini sangat baik untuk menduga komunitas yang berbentuk pohon dan tihang, contohnya vegetasi hutan. Apabila diameter tersebut lebih besar atau sama dengan 20 cm maka disebut pohon, dan jika diameter tersebut antara 10-20 cm maka disebut pole (tihang), dan jika tinggi pohon 2,5 m sampai diameter 10 cm disebut saling atau belta ( pancang ) dan mulai anakan sampai pohaon setinggi 2,5 meter disebut seedling ( anakan/semai ).
            Metode kuadran mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Metode ini mudah dan lebih cepat digunanakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya. Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutuhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik.  Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya. Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas.
            Kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis vegetasi yang menggunakan petak contoh. Kurva spesies area digunakan memperoleh luasan minimum petak contoh yang dianggap dapat mewakili suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luasan petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin beragam jenis yang terdapat pada areal tersebut makin luas kurva spesies areanya. Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu.
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
            Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m (Polunin, 1990)





BAB III
METODOLOGI
3.1 Metode praktek
            Praktek dilaksanakan di dalam jalur bersamanan dengan pelaksanaan praktek ekologi hutan dan inventarisasi hutan.

A.    Lokasi dan waktu praktek
            Tempat                        : Cagar Alam Raya Passi, Singkawang
            Hari/tanggal                            : Sabtu, 09/06/2012
            Waktu                         : 07.30 - selesai
B.     Alat dan Bahan
Ø  Pita ukur
Ø  Alat tulis
Ø  Kamera digital
Ø  Kompas
Ø  Tally sheet
C.     Tahapan pelaksanaan praktek
Pada pelaksanaan pengamatan , kami melakukan analisis vegetasi dengan menggunakan metode kuadran. Langkah kerjanya antara lain :
Ø  Pembuatan rintisan menyerupai jalur dengan panjang rintisan sebesar 100m.
Ø  Pada rintisan tersebut , dibuatlah titik – titik kuadran pengamatan dengan jarak anatar titik sebesar 20m. Titik kuadran pertama dibuat pada jarak rintis 10m.
Ø  Pencatatan masing – masing jenis pohon yang terdapat pada tiap – tiap kuadran. Pohon yang dicatat adalah pohon yang jaraknya paling dekat dengan titik kuadran . (Dicatat dalam tally sheet)
Ø  Dokumentasikan kondisi ekosistem beserta jenis-jenis pohon yang terdapat dalam jalur pengamatan



BAB III
HASIL PENGAMATAN & PEMBAHASAN

3.1  Analisis Data & Perhitungan
Tabel                       : Analisa Kwantitatif dengan cara kuadran pada Lima titik Pengukuran di Jalur 4 kawasan Cagar Alam Raya Pasi
No. Titik Pengukuran
No. Kuadran
Jenis
Keliling (cm)
Ø (m)
Jarak (m)
LBDS (m²)
1
1
Karet
41
0,1306
1,91
0,013384
2
tdk ada
3
karet
39
0,1242
1,31
0,0121
4
tdk ada
2
1
Durian
93
0,2962
0,93
0,0689
2
Durian
156
0,4968
5,29
0,1938
3
Bautiong
63
0,2006
3,28
0,0316
4
Belihing
60
0,1911
4,53
0,0287
3
1
Karet
97
0,3089
3
0,0749
2
Durian
57
0,1815
3,45
0,0259
3
Manuyut
143
0,4554
3,84
0,1628
4
Karet
91
0,2898
3,2
0,0659
4
1
Belihing
200
0,6369
1,5
0,3185
2
Karet
133
0,4236
2,3
0,1408
3
tdk ada
4
tdk ada
5
1
garong
40
0,1274
2,34
0,0127
2
karet
90
0,2866
1,54
0,0645
3
Karet
83
0,2643
6,75
0,0548
4
umam
62
0,1975
8,2
0,0306
Total
53,37
1,2999

Ø  Jadi jumlah pohon/kuadran  = 16 pohon





Perhitungan
1.      Jarak rata-rata
Jarak rata – rata =

Jarak rata – rata =  = 3,3356

2.      Kerapatan seluruh jenis/hektar
Kerapatan seluruh jenis / hektar =

Kerapatan seluruh jenis/hektar =  =  = 896,7794

3.      Kerapatan/jenis
Jumlah dari kuadran    =
Jumlah / pohon / hektar =

Spesies
Jumlah dari kuadran
Jumlah/pohon/hektar
Karet
7/16 = 0,4375
0.4375 x 896,7794 = 392,341
Durian
3/16 = 0,1875
0,1875 x 896,7794 = 168,146
Belihhing
2/16 = 0,125
0,125 x 896,7794 = 112,097
Manuyut
1/16 = 0,0625
0,0625 x 896,7794 = 56,0487
Garong
1/16 = 0,0625
0,0625 x 896,7794 = 56,0487
Umam
1/16 = 0,0625
0,0625 x 896,7794 = 56,0487
Bautiong
1/16 = 0,0625
0,0625 x 896,7794 = 56,0487
Total / ∑a
896,7794



4.      Kerapatan relatif
Kerapatan Relatif =   x 100%

Kerapatan relatif dari :
Ø  Karet               =  x 100%          = 43,75%
Ø  Durian             =  x 100 %         = 18,75%
Ø  Belihing           =  x 100%         = 12,5%
Ø  Manuyut          =  x 100%         = 6,25%
Ø  Garong                        =  x 100%         = 6,25%
Ø  Umam             =  x 100%         = 6,25%
Ø  Bautiong         =  x 100%         = 6,25%  +
   100%

5.      Frekuensi
Frekuensi       =
Frekuensi dari :
Ø  Karet               = 4/5  = 0,8
Ø  Durian             = 2/5  = 0,4
Ø  Belihing           = 2/5  = 0,4
Ø  Manuyut          = 1/5  = 0,2
Ø  Garong                        = 1/5  = 0,2
Ø  Umam             = 1/5  = 0,2
Ø  Bautiong         = 1/5  = 0,2  +
Jumlah             = 12/5 = 2,4



6.      Frekuensi relatif
Frekuensi relatif          =  x 100%
Frekuensi Relatif dari :
Ø  Karet               = (0,8/2,4 ) x 100% = 33,33%
Ø  Durian             = (0,4/2,4) x 100%  = 16,67%
Ø  Belihing           = (0,4/2,4) x 100%  = 16,67%
Ø  Manuyut          = (0,2/2,4) x 100%  = 8,33%
Ø  Garong                        = (0,2/2,4) x 100%  = 8,33%
Ø  Umam             = (0,2/2,4) x 100%  = 8,33%
Ø  Bautiong         = (0,2/2,4) x 100%   = 8,33%  +
Jumlah                                                 99,99%

7.      Dominansi
Jenis
Jumlah dari kuadran
jumlah/pohon/ha
LBDS
rata - rata LBDS
Karet
0,4375
392,3410
0,4265
0,4265/7 = 0,0609
Durian
0,1875
168,1461
0,2885
0,2885/ 3 = 0,0962
Belihing
0,125
112,0974
0,3471
0,3471/2 = 0,1736
Manuyut
0,0625
56,0487
0,1628
0,1628/1 = 0,1628
Garong
0,0625
56,0487
0,0127
0,0127/1 = 0,0127
Umam
0,0625
56,0487
0,0306
0,0306/1 = 0,0306
Bautiong
0,0625
56,0487
0,0316
0,0316/1 = 0,0316

Dominansi      = Jumlah LBDS tiap jenis x jumlah jenis per hektar
Dominansi dari :
Ø  Karet               = 0,4265 x 392,3410 = 167,3334 m²
Ø  Durian             = 0,2885 x 168,1461 = 48,5102 m²
Ø  Belihing           = 0,3471 x 112,0974 = 38.,9090 m²
Ø  Manuyut          = 0,1628 x 56,0487   = 9,1247 m²
Ø  Garong                        = 0,0127 x 56,0487   = 0,7118 m²
Ø  Umam             = 0,0306 x 56,0487   = 1,7151 m²
Ø  Bautiong         = 0,0316 x 56,0487   =  1,7711 m²     +
Jumlah                                              =  268,0754 m²/ha

8.      Dominansi Relatif
Dominansi relatif        =  x 100%

Dominansi Relatif dari :
Ø  Karet               = (167,3334 / 268,0754) x 100% = 62,42%
Ø  Durian             = (48,5102 / 268,0754)  x 100%  = 18,10%
Ø  Belihing           = (38.,9090 / 268,0754) x 100%  = 14,51%
Ø  Manuyut          = (9,1247 / 268,0754)    x 100%  = 3,40%
Ø  Garong                        =  (0,7118 / 268,0754)   x 100%  = 0,27%
Ø  Umam             = (1,7151 / 268,0754)    x 100%  = 0,64%
Ø  Bautiong         = (1,7711 / 268,0754)    x100%   = 0,66% +
Total                                 = 100%

9.      Indeks Nilai Penting
INP     = frekuensi Relatif + Dominansi Relatif + Kerapatan Relatif

Jenis
F. Relatif (%)
D. Relatif (%)
K. Relatif (%)
INP
Urutan Nilai Penting
Karet
33,33
62,42
43,75
139,5
1
Durian
16,67
18,1
18,75
53,52
2
Belihing
16,67
14,51
12,5
43,68
3
Manuyut
8,33
3,4
6,25
17,98
4
Garong
8,33
0,27
6,25
14,85
7
Umam
8,33
0,64
6,25
15,22
6
Bautiong
8,33
0,66
6,25
15,24
5




3.2  Pembahasan
Analisa vegetasi dilakukan untuk mengetahui variasi yang ada pada suatu ekosistem atau area. Pada pengamatan kami , jumlah pohon yang kami temukan sangat sedikit. Pada 5 titik pengukuran yang kami lakukan , tidak semua titik mempunyai 4 pohon atau 4 kuadran. Ada dua titik pengukuran yakni titik 1 dan 4 yang tidak lengkap. Hal itu karena pada areal tersebut memang vegetasi tingkat pohon sedikit. Namun yang banyak adalah tingkat semai , pancang dan tiang.
Pada areal yang kami amati , kami hanya menemukan 7 jenis pohon yakni pohon karet , durian, belihing , bautiong , garong, manuhut dan pohon umam. Ketujuh jenis tersebut memiliki nilai kerapatan relatif, dominansi relatif dan frekuensi rerlatif yang bervariasi. Nilai – nilai tersebut dapat digunakan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP).
Berdasarkan hasil pengolahan data yang kami lakukan maka dapat diketahui bahwa :
a.         Pohon yang memiliki tingkat dominansi tertinggi adalah pohon karet yakni sebesar 62,42% , sedangkan pohon dengan dominansi terendah  adalah pohon garong dengan nilai dominansi sebesar 0,27%.
b.         Pohon dengan tingkat kerapatan tertinggi adalah pohon karet dengan tingkat kerapatan sebesar 43,75%. Sedangkan pohon dengan tingkat kerapatan terendah adalah pohon manuyut , garong , umam dan bautiong dengan  nilai sebesar 6,25%.
c.         Pohon dengan tingkat frekuensi tertinggi adalah pohon karet dengan tingkat frekuensi sebesar 33,33%. Sedangkan pohon dengan tingkat frekuensi terendah adalah pohon manuyut , garong , umam dan boutiong dengan tingkat frekuensi sebesar 8,33%.
d.        Pohon dengan INP tertinggi adalah pohon karet dengan nilai INP sebesar 139,5%. Dan yang memiliki nilai INP terkecil adalah pohon  garong dengan nilai INP sebesar 14,85%.
  Indeks nilai penting digunakan sebagai  parameter kuantitatif yang dapat dipakai  untuk  menyatakan  tingkat  dominansi   spesies  dalam  suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan nilai INP tersebut kita dapat mengetahui spesies apa yang mendominasi pada kawasan tersebut.
Berdasarkan hasil pengolahan data , maka didapatlah urutan nilai penting yakni antara lain : karet , durian , belihing ,  manuhut , bautiong , umam dan garong.


























BAB VI
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
 INP merupakan parameter yang digunakan untuk mengetahui variasi yang ada pada suat tegakan. Pada pengamatan kami , tidak banyak variasi spesies yang kami temukan. Hanya ada 7 jenis pohon yang kami temukan. Dari ketujuh jenis pohon tersebut , yang paling mendominasi adalah pohon karet.

4.2  Saran
Metode kuadran adalah metode yang mudah dan cepat untuk melakukan analisis vegetasi. Namun metode ini akan berkurang akkurasinya apabila dipergunakan untuk sampling pada distribusi individual yang tidak menyebar secara acak atau jumlah individu yang dicatat hanya sedikit. Oleh karena itu , metode ini sebaiknya tidak digunakan untuk populasi yang mengelompok atau individu yang mempunyai penyebaran tidak merata.










DAFTAR PUSTAKA

Budhi, Setia. 2009. Bahan Kuliah Ekologi Hutan. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Budhi, Setia. 2009. Penuntun Praktikum  Ekologi Hutan. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pontianak
Irwanto. 2007. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Tesis Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Jihadi ,M Amril, 2000, Studi Jenis-Jenis Permudaan Alam Diareal Bekas Tempat Pengumpulan Kayu (Tpn) Pada Berbagai Tingkat Umur Di Hph Pt. Barito Pacipic Timber (Unit I) Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang. Skripsi Fakultas Kehutanan  Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tidak dipublikasikan
Latifah, Siti. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Sumatra Utara.
Rahayu, S, 1991, Analisa Permudaan Hutan Alam Menurut Ukuran Rumpang Pada Areal Bekas Tebangan. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tidak dipublikasikan.
Soemarwoto, Otto, 1997, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan Edisi Revisi, Penerbit Djambatan, Jakarta.
Soerianegara, I dan A, Indrawan, 1978, Ekologi Hutan Indonesia, Lembaga Kerjasama Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar